Maidah Rahman

Rp25.000

Sebagaimana umumnya tradisi bulan suci Ramadhan, tenda-tenda jamuan berbuka puasa terbentang luas. Di Mesir,  biasanya disebut dengan istilah Maidah ar-Rahman. Tidak hanya di masjid-masjid, di pingiran jalan raya pun tidak jarang akan kita temui jamuan gratis buka puasa ini. Siapa saja boleh ikut berbuka puasa di sana, tak terkecuali kita orang pendatang.

Di tempat ini, makanan pokok Mesir, ‘isy atau seperti roti gandum sudah terhidang di depan kita

Selengkapnya :hidayatullah.com

OVERVIEW

AZMI ABUBAKAR, alumnus Dayah Jeumala Amal, Luengputu, Pidie Jaya, santri di Jamiah Al-Azhar, Kairo, melaporkan dari Mesir

SUDAH menjadi adat yang mendarah daging di Mesir ketika bulan suci Ramadhan tiba maka para orang kaya di “Kota Seribu Menara” ini akan menghidangkan makanan berbuka puasa untuk kaum muslimin secara sukarela. Hidangan berbuka puasa ini di Mesir dinamakan maidah rahman.

Ketika waktu berbuka tinggal menuggu beberapa jam lagi, maka kami dan para pelajar dari Nusantara, Malaysia, dan pelajar rantau Melayu lainnya akan menuju tempat-tempat yang menyediakan maidah rahman. Banyak maidah rahman yang bisa dipilih, ada di masjid, juga tak sedikit yang menyajikannya di tepi jalan dengan meletakkan meja dan kursi.

Bahkan, para muhsinin ini biasanya merayu para palajar untuk sudi berbuka puasa di tempat mereka. Kesan saya, warga Mesir sangat memahami hadis Rasulullah tentang fadhilah meng-khidmah (memberi bekal berbuka) bagi orang-orang yang berpuasa.

Suasana ini sudah barang tentu berbanding terbalik dengan tanah indatu saya, Aceh. Di jalanan yang banyak sekali kita lihat justru para penjual yang menjajakan kudapan untuk berbuka. Saya bandingkan, jejeran meja pedagang di Aceh ternyata sama banyaknya dengan para orang kaya yang membuka lapak maidah rahman di Mesir. Bedanya kalau di Aceh penganannya kita harus beli, sedangkan di Mesir disediakan gratis.

Orang-orang kaya di Mesir jauh-jauh hari sudah mempersiapkan harta bendanya untuk maidah rahman pada bulan Ramadhan. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan orang-orang kaya di Aceh sekarang? Sebenarnya para dermawan Aceh sangat mampu mewujudkan tradisi itu. Ya, tidak mestilah sama persis dengan maidah rahman di Mesir, namun tradisi menyediakan bekal berbuka di meunasah-meunasah di Aceh harus kita pertahankan atau tumbuhkan kembali, bila memang ternyata sudah luntur. Para orang kaya Aceh, tanpa diminta, harus tergerak sendiri batinnya membagi makanan berbuka kepada orang yang berbuka, karena pahalanya sama dengan dia melaksanakan puasa.

Melalui ruh maidah rahman, kita ingin semangat bersedekah dapat terawat dan tumbuh dengan baik di bumi Aceh, sebagaimana pesan dalam Surah Albaqarah 261, 245, dan juga Surah Alhadid 11.

Melalui ruh maidah rahman yang ada di Mesir ini, kita berusaha mengikis sifat materialistis yang agaknya telah menjadi penyakit dalam masyarakat Aceh postmodern. Cara pandang akan untung rugi dan prinsip “nyang peunteng bek rugoe” harus dibuang jauh-jauh. Mari meringankan tangan dengan bersedekah, amalan yang insya Allah akan mengantarkan kita ke pintu syurga-Nya.

Para penderma di Mesir sudah berkali-kali menghidangkan maidah rahman. Semoga akan banyak pula orang-orang kaya di gampong-gampong Aceh yang terjangkiti oleh semangat memberi dan berbagi rezeki lewat tradisi maidah rahman ini. Semoga.

 

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Maidah Rahman, Pesan Penting dari Mesir, https://aceh.tribunnews.com/2015/07/11/maidah-rahman-pesan-penting-dari-mesir.

DONASI LAIN

REVIEWS

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Maidah Rahman”

Your email address will not be published.